Penyebab Autoimun – Webinar Three Supplements Part II

Dalam artikel sebelumnya, kita telah membahas tentang akar penyakit autoimun, seperti diet rendah nutrisi, kurangnya istirahat, hubungan interpersonal yang tidak memuaskan, trauma, mikroorganisme, hingga polusi lingkungan. Di artikel kali ini kita akan membahas lebih spesifik lagi, apa pemicu spesifik yang memicu reaksi autoimun dalam tubuh.

Sebelum ke inti pembahasan, saya ingin mengajak kalian untuk flashback tentang “apa itu autoimun?”. Menurut penuturan dr Herlin Ramadhanti, seorang dokter yang juga pakar functional meidicine, autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh mengalami kegagalan fungsi, sehingga terjadi serangan terhadap jaringan-jaringan tubuh sendiri. Hal ini disebabkan oleh error sistem dalam sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan tubuh menyerang dirinya sendiri, bukan benda asing seperti yang seharusnya dilakukan.

Dalam pemaparannya dalam sebuah webinar yang diadakan oleh komunitas Bebemoise, dr Herlin Ramadhanti menjelaskan beberapa beberapa faktor yang menjadi penyebab penyakit autoimun. Seperti genetik, kondisi leaky gut syndrome, lalu ada faktor lingkungan juga yang memainkan peran penting sebagai pemicu, termasuk didalamnya ada sensitivitas terhadap makanan, paparan toksin, infeksi, dan stresor yang dapat mengganggu keseimbangan sistem kekebalan tubuh.

Faktor Penyebab Autoimun

1. Genetik

Meskipun peran genetik dalam penyakit autoimun tidak begitu besar, genetik memainkan peran dalam menentukan kerentanan seseorang terhadap perkembangan penyakit autoimun.

2. Leaky gut syndrome

Leaky gut syndrome, sebuah kondisi di mana “tight junction” pada dinding usus menjadi renggang dan mengalami kebocoran, merupakan fenomena penting yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh. Salah satu pemicu utamanya adalah gluten, yang dapat merangsang pembentukan protein zonulin yang mengganggu sistem pertahanan tubuh.

Namun, gluten bukanlah satu-satunya penyebab, karena ada faktor lain seperti protein yang sulit dicerna, rendahnya enzim pencernaan, penggunaan antibiotik yang berlebihan, infeksi, serta masalah gula darah dan resistensi insulin. Selain itu, antibodi dan kondisi kehamilan juga dapat memperburuk kondisi ini, terutama jika kehamilan disertai dengan peradangan pada tubuh ibu.

Kesadaran akan pentingnya keseimbangan mikroorganisme dalam sistem pencernaan juga penting. Kuman baik dalam usus memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan dan mengontrol pertumbuhan kuman patogen. Namun, ketidakseimbangan antara kuman baik dan kuman patogen dapat menyebabkan disbiosis, yang memperburuk peradangan dan meningkatkan risiko perkembangan kondisi autoimun. Oleh karena itu, menjaga kesehatan pencernaan dan menerapkan pola makan seimbang serta gaya hidup yang sehat sangatlah penting dalam mencegah dan mengelola kondisi seperti leaky gut syndrome dan gangguan autoimun.

3. Faktor lingkungan

3a. Toksin

Hubungan antara toksin dan autoimun sangat kompleks. Toksin seperti pestisida dan logam berat dapat menyebabkan respon autoimun dalam tubuh. Meskipun logam berat dapat dinetralisir oleh hati, paparan berkelanjutan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan kerusakan jaringan.

Peran sel regulator dalam mengatur sistem kekebalan tubuh juga sangat penting untuk mencegah respon autoimun yang tidak diinginkan. Sel regulator diproduksi di sumsum tulang dan dipindahkan ke timus, di mana mereka dilatih untuk mengenali dan mengontrol benda asing. Gangguan dalam produksi atau fungsi sel regulator dapat mengarah pada peningkatan risiko respon autoimun.

3b. Stressor

Stres dapat memicu reaksi autoimun melalui pengaruhnya terhadap hormon kortisol. Ada dua sumber stresor: fisik dan psikis. Stresor fisik meliputi olahraga berlebihan, kurang tidur, dan pola makan tidak sehat, yang semuanya meningkatkan produksi kortisol. Sementara stresor psikis mencakup beban emosional seperti masalah rumah tangga atau konflik interpersonal.

Kortisol, meskipun penting untuk respons tubuh terhadap tantangan, dapat mengganggu keseimbangan sistem imun jika tingkatnya terus tinggi. Hal ini dapat memicu respon autoimun karena kortisol mempengaruhi kerja sistem imun, termasuk penurunan populasi bakteri baik dan meningkatkan aktivitas virus yang tertidur, yang akhirnya dapat menyebabkan peradangan kronis.

Pentingnya mengelola stressor

Salah satu faktor yang perlu dikendalikan oleh pasien dengan gangguan autoimun dan peradangan kronis adalah stresor. Stresor tidak hanya meningkatkan produksi sitokin, tetapi juga menurunkan populasi bakteri baik dalam tubuh, yang dapat mengganggu fungsi pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Akibatnya, kondisi tersebut memperburuk peradangan dan mempengaruhi keseimbangan hormon kortisol. Stres juga dapat memicu aktivasi virus yang tidur, yang kemudian menggandakan dirinya sendiri dan memicu respon autoimun. Hal ini menciptakan lingkaran berbahaya di mana stres meningkatkan peradangan, yang kemudian memperburuk kondisi jaringan dan memicu peningkatan produksi hormon kortisol. Penting untuk memutus rantai ini dengan mengelola stresor secara efektif.

Untuk mengelola stresor, kita dapat mencoba teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga, berolahraga secara teratur, menjaga pola makan sehat, dan meluangkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan. Penting juga untuk mengatur waktu istirahat yang cukup dan membangun dukungan sosial.

Hubungan autoimun dan infeksi

Ada beberapa mekanisme yang menjelaskan hubungan antara infeksi dan respons autoimun dalam tubuh manusia. Pertama adalah melalui konsep molecular mimicry, di mana infeksi dapat meniru sel sehat dalam tubuh. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh, terutama sel T dan sel B yang bertugas dalam respons imun spesifik, kesulitan membedakan antara virus atau bakteri dengan jaringan tubuh. Sebagai hasilnya, mereka menyerang keduanya, mengakibatkan kerusakan pada jaringan yang sehat.

Selain itu, terdapat mekanisme yang disebut bystander activation, di mana infeksi menyerang sel sehat, memicu respons imun tubuh untuk melawannya. Namun, dalam proses ini, sel-sel imun juga terlibat dalam serangan terhadap sel sehat, yang pada akhirnya dapat menyebabkan respons autoimun.

Mekanisme lainnya adalah melalui cryptic antigens, khususnya pada virus seperti Herpes dan Epstein-Barr. Virus-virus ini dapat “membajak” DNA sel tubuh, mengubah identitas sel sehingga sistem kekebalan tubuh tidak lagi mengenali mereka sebagai benda asing. Meskipun sistem kekebalan tubuh tetap aktif karena ada sinyal kehadiran virus, namun dalam jangka panjang hal ini dapat menyebabkan terjadinya respons autoimun.

Dengan demikian, mekanisme ini menjelaskan bagaimana infeksi dapat menjadi pemicu untuk terjadinya kondisi autoimun dalam tubuh manusia.

Infeksi Virus Herpes dan Epstein-Barr

Virus-virus seperti Herpes Simpleks tipe 1 dan 2, serta Epstein-Barr Virus, merupakan beberapa virus yang paling umum terkait dengan kondisi autoimun.

Herpes simplex memiliki sifat unik di mana ia dapat berada dalam keadaan aktif atau tidak aktif dalam tubuh. Saat aktif, sistem kekebalan tubuh akan merespons dengan membentuk antibodi. Namun, keadaan ini juga dapat merangsang respons autoimun.

Sementara itu, Epstein-Barr Virus memiliki kaitan yang erat dengan berbagai jenis kondisi autoimun, termasuk multiple sclerosis, lupus, chronic fatigue syndrome, fibromyalgia, Hashimoto’s, Sjögren’s, dan Graves’ disease. Yang menarik, bukan hanya keberadaan virus dalam keadaan aktif yang menjadi masalah, tetapi juga tingginya viral load dalam darah seseorang.

Misalnya, pada penderita lupus, kemungkinan viral load mereka dapat 15-40 kali lebih tinggi daripada individu tanpa kondisi autoimun. Ini menunjukkan bahwa tingkat virus dalam tubuh juga memainkan peran penting dalam perkembangan respons autoimun.

Pilihan Suplemen Three untuk Mengurangi Risiko Penyakit Autoimun

Three Vitalite, Three Purifi, Three Imune, dan Three Revive merupakan pilihan suplemen yang tepat untuk mengurangi risiko penyakit autoimun. Three Vitalite mengandung nutrisi penting yang mendukung kesehatan jantung, otak, mata, dan organ penting lainnya, termasuk usus. Dengan tambahan probiotik dan Berry Blend untuk antioksidan, Three Vitalite juga membantu menjaga keseimbangan mikrobioma usus, yang berperan penting dalam mengontrol peradangan dan menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Sementara itu, Three Purifi dirancang khusus untuk membantu detoksifikasi organ-organ penting dalam tubuh, termasuk hati, ginjal, dan usus. Dengan mengandung asam fulvic yang dapat membantu menghilangkan logam berat dan zat-zat toksin lainnya, Three Purifi membantu membersihkan tubuh dari kotoran dan meminimalkan beban toksin yang dapat memicu respons autoimun.

Suplemen Three Imune dirancang khusus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan kandungan antioksidan yang kuat untuk melawan bakteri berbahaya dalam usus, Three Imune membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan dan mengurangi risiko infeksi yang dapat memicu respons autoimun.

Three Eternel, dengan resveratrol dan antioksidan tinggi, menurut studi epigenetik in vitro oleh Dan Gubler telah terbukti ampuh mengurangi peradangan. Dalam kondisi autoimun yang seringkali menyebabkan peradangan tinggi, Three Eternel memberikan perlindungan dengan sifat antiinflamasi yang kuat dari resveratrol dan antioksidan lainnya.

Terakhir ada Three Revive, Suplemen Revive dari Three merupakan tambahan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Three Revive dirancang khusus untukmemelihara status inflamasi dalam tubuh. Dengan membantu mengurangi peradangan yang dapat menjadi pemicu utama penyakit autoimun, Three Revive berperan penting dalam mengurangi akar penyakit autoimun.

Dengan mengonsumsi lima suplemen ini secara teratur, kita dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, membersihkan tubuh dari toksin dan zat-zat berbahaya, serta menjaga keseimbangan mikrobioma usus. Ini semua merupakan langkah penting dalam mengurangi risiko penyakit autoimun dan menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Jadi, jangan ragu untuk memilih Three sebagai suplemen pilihan Anda dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyakit autoimun.

Contact Hani Zaharani – Untuk konsultasi dan pembelian produk Suplemen Three

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top