Choosing myself became a way to stay alive inside. To listen, to slow down, to remain. And to never lose myself again.
Learning to Face What I Once Avoided

Tahun 2025 menjadi titik balik untukku. Tahun ketika aku belajar menetapkan boundaries, dan belajar berpamitan dengan cara yang lebih dewasa. Selama ini, aku cenderung menghindari konflik. Ketika situasi terasa tidak nyaman, pilihanku sering kali adalah pergi diam-diam, tanpa penjelasan, tanpa penutupan yang jelas. Aku pikir itu cara paling aman, padahal ternyata, pergi dengan cara seperti itu sering kali meninggalkan kebingungan dan luka, baik untuk orang lain maupun untuk diriku sendiri.
Di tahun ini, aku mulai belajar menghadapi hal-hal yang dulu selalu kuhindari. Aku belajar menyampaikan apa yang mengganggu pikiranku, mengungkapkan rasa tidak nyaman tanpa menyerang, dan mengucapkan terima kasih sebelum benar-benar melangkah pergi. Sangat tidak mudah bagiku, tapi aku sadar bahwa kejujuran dan kejelasan adalah bentuk tanggung jawab, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.Tahun 2025 juga mengajarkanku bahwa berpamitan dengan baik ternyata membawa dampak yang luar biasa nyata. Ada rasa lega karena tidak lagi menyimpan hal yang menggantung, tidak ada lagi beban dari kata-kata yang tidak sempat terucap.
Resign dari pekerjaan, mundur dari komunitas tempat aku menjadi volunteer, memindahkan anak ke sekolah baru, dan memberhentikan Mbak ART.
Ternyata, dengan menutup satu fase secara utuh, aku bisa melangkah ke depan dengan pikiran yang lebih jernih, emosi yang lebih tenang, dan ruang yang lebih lapang untuk hal-hal baru yang mungkin akan datang.
Living With the Parts of Me I Can’t Silence

Di penutup tahun sebelumnya, aku sempat membahas self-control, sayangnya aku harus membuat pengakuan jujur bahwa “aku belum sepenuhnya berhasil”. Ada kebiasaan, pola, dan dorongan dalam diriku yang masih sulit dikendalikan, dan itu berdampak pada tubuh maupun pikiranku.
♫⋆。♪ ₊˚♬ ゚
There’s something inside me that pulls beneath the surface
Consuming, confusing
This lack of self control I fear is never ending
Controlling
I can’t seem
Discomfort, endlessly has pulled itself upon me
Distracting, reacting
Against my will I stand beside my own reflection
It’s haunting
How I can’t seem
Potongan lirik Crawling dari Linkin Park terasa sangat dekat denganku. Ada rasa seperti terjebak di dalam diri sendiri. Ingin bergerak maju, ingin hidup lebih baik, tapi seperti ada sesuatu di dalam diri yang terus menarik ke arah yang sebaliknya.
Aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa, tapi pada akhirnya aku harus jujur pada diri sendiri: ada batas yang tidak bisa kutembus sendirian.
Di titik inilah aku menyadari sesuatu yang penting. Bahwa meminta bantuan profesional (lagi) adalah bentuk tanggung jawab terhadap diriku sendiri. Dan aku yakin, justru dari keputusan inilah proses penyembuhan yang lebih sehat bisa benar-benar dimulai.
Jika kalian penasaran, bagaimana penyintas depresi menjalani hari-harinya, ini lah gambarannya : depresi tidak selalu terlihat seperti kesedihan yang dramatis. Kadang ia hadir dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan menjauhkan diri dari versi terbaik mereka.
Aku tidak menuliskan ini untuk meminta pengertian, apalagi untuk membenarkan semuanya. Aku sadar ada pola yang perlu dihadapi, bukan ditoleransi. Aku juga tahu bahwa membiarkan diri terus terjebak dalam impuls dan pelarian bukanlah jalan keluar.
Learning to Live Within My Limits – Less in More
Menutup penghujung tahun dengan membaca buku ini benar-benar keputusan yang tepat. Ada banyak bagian yang terasa menampar, terutama saat penulis membahas tentang bagaimana melepaskan kecemasan dan rasa takut yang berlebihan, serta bagaimana kebahagiaan sering kali justru hadir saat kita berani menyederhanakan hidup. Dan membahas kata sederhana, menurutku nggak bisa lepas dari “perasaan merasa cukup”

Setelah tiga tahun bergulat dengan pertanyaan tentang kapan aku bisa merasa “cukup”, akhirnya di tahun 2025 aku sampai pada satu keputusan yang terasa paling jujur untuk diriku sendiri. Aku mulai membatasi diri, terutama dalam menerima project dan keterlibatan di berbagai kegiatan (walaupun berat, karena banyak di antaranya memberiku pengalaman dan pelajaran luar biasa berharga). Namun aku juga sadar, bahwa aku bukan “Wonder Woman” yang energinya tidak terbatas.
Aku harus megelola energiku dengan bijak, atau jika tidak, aku justru akan kehilangan hal-hal yang paling penting. Waktu bersama suami dan anak-anakku misalnya..
Disclaimer : Aku sadar, bahwa keputusan untuk bisa berkata “cukup” adalah sebuah privilese. Aku bisa sampai di titik ini karena ada dukungan dari pasangan, dan ada ruang aman yang memungkinkan aku berhenti sejenak.
The Moment I Chose to Stay Present

Di tengah semua hal berat itu, ada satu hal menggembirakan yang akhirnya terjadi di 2025: aku mulai benar-benar berkomitmen untuk bergerak dan berolahraga. Bukan karena ingin terlihat ideal, bukan pula karena tuntutan apa pun, tapi karena sebuah kalimat sederhana yang terus terngiang di kepalaku:
“You’d die for your kids, but would you live for them?”
Kalimat itu menampar dengan cara yang pelan tapi sangat dalam. Aku sadar, mencintai anak-anakku bukan hanya tentang berkorban atau mengorbankan diri, tapi juga tentang memilih hidup dengan lebih sadar dan bertanggung jawab. Tentang mau melakukan hal-hal yang tidak selalu nyaman, demi tubuh dan kesehatan yang lebih baik, atau tentang menjadi contoh, bukan lewat kata-kata, tapi lewat kebiasaan kecil yang konsisten,
In the end, 2025 is not about grand achievements or dramatic transformations. It is about learning to pause, to look inward, and to choose more consciously.
I am still learning. Still stumbling, still finding my footing, still figuring out what it means to live in a way that feels true to me. But now, I move with more awareness, with a deeper intention to care for myself, to protect what truly matters, and to stop abandoning myself along the way.
And maybe, for now, that is more than enough.
2025: Hani & Sani – 10 Years
This last piece, I dedicate to my husband : the person who has quietly walked beside me for the past ten years.
Sani has been my constant and my steady ground. Our journey has never been easy. There were moments when staying felt just as hard as leaving. But somehow, again and again, we chose each other. And in choosing each other, we learned how to grow.

Lately, I’ve come to realize something deeper. Sani isn’t only my life partner, in many ways, he became the safe place my younger self once needed. The presence that made me feel protected. The steady voice that reminded me I wasn’t alone.
Whenever I felt afraid to take a step forward, he was there, quietly saying, “Nggak usah takut, ada aku..”
And sometimes, that kind of presence, that kind of love – is more than enough.
Selamat 10 tahun, Kak, Bli, Ayah, Sayang...
Terima kasih sudah berjalan bersamaku sejauh ini
Terima kasih untuk kesabaran, keteguhan, dan cinta yang terus kamu pilih, bahkan di hari-hari yang tidak mudah.
Aku bersyukur bisa tumbuh, belajar, dan pulang ke tempat yang selalu terasa aman bersamamu.
Semoga kita terus saling memilih, hari demi hari…


